5 Fakta Penyebab Keterlambatan Penerbangan dan Maskapai Paling On-time

Masalah keterlambatan penerbangan atau delay tampaknya masih jadi pekerjaan rumah besar bagi Indonesia. Ya, karena setidaknya Kementrian Perhubungan sepanjang 2107, mencatat setidaknya ada 19.21 persen keterlambatan. Lalu, apa saja faktor yang menyebabkan keterlambatan itu terjadi? Bila faktor cuaca, penumpang tentu mafhum, namun bagaimana bila itu dari maskapai? Bagaimana faktanya? Silakan simak artikel ini untuk jawabannya.

Sepanjang 2017, ada 159.153 penerbangan yang terlambat

Di tahun 2017, Direktorat Angkutan Udara Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan ( Kemenhub) mencatat adanya keterlambatan penerbangan atau delay pada penerbangan domestik Indonesia mencapai 159.153 penerbangan atau sekitar 19,21 persen dari total 828.609 penerbangan domestik. Dengan demikian tercatat ada penurunan sekitar 2,5 persen dibanding tahun 2016. OTP pada tahun 2016  mencapai 82,67 persen atau sebanyak 631.216 penerbangan tepat waktu dari total 763.522 penerbangan. Sementara untuk pembatalan penerbangan atau cancel mencapai 5.432 penerbangan atau 0,66 persen dari total penerbangan domestik.

Banyak faktor yang menyebabkan pesawat terlambat

Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan mengatakan adanya keterlambatan dan pembatalan tersebut atau pun soal ketepan waktu disebabkan banyak hal. Masalah ketepatan waktu penerbangan memang bukan domain maskapai saja. Ada pihak lain yang berperan seperti cuaca, kelaikan teknis, bandar udara, pengelola navigasi, groundhandling dan bahkan penumpang pesawat.

Di Indonesia, didominasi faktor non teknis operasional atau dari maskapainya

Meski demikian, penyebab dari keterlambatan dan pembatalan penerbangan domestik di Indonesia pada tahun 2017 didominasi oleh faktor non teknis operasional. Ada sekitar 9,67 persen atau sebanyak 80.094 penerbangan yang terlambat dan batal karena faktor yang berkaitan dengan maskapai penerbangan.

Bandara dan cuaca pun turut membuat pesawat terlambat di Indonesia

Penyebab lainnya karena faktor teknis operasional atau bisa dikatakan yang terkait dengan bandar udara. Ada sekitar 6,43 persen atau sebanyak 53.250 penerbangan. Sementara itu ada sekitar 1,43 persen atau sebanyak 11.879 penerbangan yang terlambat dan batal karena faktor cuaca. Lalu sekitar 1,68 persen atau sebanyak 13.931 penerbangan disebabkan oleh faktor lain.

Masih ada maskapai yang cukup bisa dipercaya

Sebaliknya, tercatat pula di tahun 2017 ada 10 maskapai berjadwal nasional Indonesia memiliki ketepatan waktu terbang atau on time performance (OTP) cukup baik, yakni di atas 70 persen. Berikut ini daftar maskapai berjadwal sesuai urutan presentase ketepatan waktu (OTP), beserta jumlah penerbangannya.

  1. NAM Air dengan OTP 92,62 persen total penerbangan 32.209 dan penerbangan on time 29.832 penerbangan.
  2. Sriwijaya Air dengan OTP 88,69 persen, total penerbangan 67.673  dan penerbangan on time 60.017  penerbangan.
  3. Batik Air dengan OTP 88,66 persen, total penerbangan 84.900 dan penerbangan on time 75.270 penerbangan.
  4. Garuda Indonesia dengan OTP 88,53 persen, total penerbangan 200.918 dan penerbangan on time 177.875  penerbangan.
  5. Citilink dengan OTP 88,33 persen, total penerbangan 84.808 dan penerbangan on time 74.912  penerbangan.
  6. Indonesia AirAsia Extra dengan OTP 77,42 persen, total penerbangan 7.747 dan penerbangan on time 5.998 penerbangan.
  7. Indonesia AirAsia dengan OTP 75,94 persen, total penerbangan 7.378 dan penerbangan on time 5.603 penerbangan.
  8. Travel Express dengan OTP 74,40 persen, total penerbangan 9.287 dan penerbangan on time 6.909  penerbangan.
  9. Susi Air dengan OTP 72,65 persen, total penerbangan 6.781 dan penerbangan on time 4.926  penerbangan
  10. TransNusa dengan OTP 71,36 persen, total penerbangan 737 dan penerbangan on time 526 penerbangan.

Masalah keterlambatan penerbangan atau delay tampaknya masih jadi pekerjaan rumah besar bagi Indonesia. Ya, karena setidaknya Kementrian Perhubungan sepanjang 2107, mencatat setidaknya ada 19.21 persen keterlambatan. Lalu, apa saja faktor yang menyebabkan keterlambatan itu terjadi? Bila faktor cuaca, penumpang tentu mafhum, namun bagaimana bila itu dari maskapai? Bagaimana faktanya? Silakan simak artikel ini untuk jawabannya.

Sepanjang 2017, ada 159.153 penerbangan yang terlambat

Di tahun 2017, Direktorat Angkutan Udara Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan ( Kemenhub) mencatat adanya keterlambatan penerbangan atau delay pada penerbangan domestik Indonesia mencapai 159.153 penerbangan atau sekitar 19,21 persen dari total 828.609 penerbangan domestik. Dengan demikian tercatat ada penurunan sekitar 2,5 persen dibanding tahun 2016. OTP pada tahun 2016  mencapai 82,67 persen atau sebanyak 631.216 penerbangan tepat waktu dari total 763.522 penerbangan. Sementara untuk pembatalan penerbangan atau cancel mencapai 5.432 penerbangan atau 0,66 persen dari total penerbangan domestik.

Banyak faktor yang menyebabkan pesawat terlambat

Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan mengatakan adanya keterlambatan dan pembatalan tersebut atau pun soal ketepan waktu disebabkan banyak hal. Masalah ketepatan waktu penerbangan memang bukan domain maskapai saja. Ada pihak lain yang berperan seperti cuaca, kelaikan teknis, bandar udara, pengelola navigasi, groundhandling dan bahkan penumpang pesawat.

Di Indonesia, didominasi faktor non teknis operasional atau dari maskapainya

Meski demikian, penyebab dari keterlambatan dan pembatalan penerbangan domestik di Indonesia pada tahun 2017 didominasi oleh faktor non teknis operasional. Ada sekitar 9,67 persen atau sebanyak 80.094 penerbangan yang terlambat dan batal karena faktor yang berkaitan dengan maskapai penerbangan.

Bandara dan cuaca pun turut membuat pesawat terlambat di Indonesia

Penyebab lainnya karena faktor teknis operasional atau bisa dikatakan yang terkait dengan bandar udara. Ada sekitar 6,43 persen atau sebanyak 53.250 penerbangan. Sementara itu ada sekitar 1,43 persen atau sebanyak 11.879 penerbangan yang terlambat dan batal karena faktor cuaca. Lalu sekitar 1,68 persen atau sebanyak 13.931 penerbangan disebabkan oleh faktor lain.

Masih ada maskapai yang cukup bisa dipercaya

Sebaliknya, tercatat pula di tahun 2017 ada 10 maskapai berjadwal nasional Indonesia memiliki ketepatan waktu terbang atau on time performance (OTP) cukup baik, yakni di atas 70 persen. Berikut ini daftar maskapai berjadwal sesuai urutan presentase ketepatan waktu (OTP), beserta jumlah penerbangannya.

  1. NAM Air dengan OTP 92,62 persen total penerbangan 32.209 dan penerbangan on time 29.832 penerbangan.
  2. Sriwijaya Air dengan OTP 88,69 persen, total penerbangan 67.673  dan penerbangan on time 60.017  penerbangan.
  3. Batik Air dengan OTP 88,66 persen, total penerbangan 84.900 dan penerbangan on time 75.270 penerbangan.
  4. Garuda Indonesia dengan OTP 88,53 persen, total penerbangan 200.918 dan penerbangan on time 177.875  penerbangan.
  5. Citilink dengan OTP 88,33 persen, total penerbangan 84.808 dan penerbangan on time 74.912  penerbangan.
  6. Indonesia AirAsia Extra dengan OTP 77,42 persen, total penerbangan 7.747 dan penerbangan on time 5.998 penerbangan.
  7. Indonesia AirAsia dengan OTP 75,94 persen, total penerbangan 7.378 dan penerbangan on time 5.603 penerbangan.
  8. Travel Express dengan OTP 74,40 persen, total penerbangan 9.287 dan penerbangan on time 6.909  penerbangan.
  9. Susi Air dengan OTP 72,65 persen, total penerbangan 6.781 dan penerbangan on time 4.926  penerbangan
  10. TransNusa dengan OTP 71,36 persen, total penerbangan 737 dan penerbangan on time 526 penerbangan.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *